Rokok dan Kematian
Tanpa sebab yang mengharu-biru atau kepedihan penyakit yang nempel di badan, paul berhenti secara total menghisap rokok. “Aku harus bilang, inilah saatnya. Momentum. Aku harus berhenti total. Sudah cukuplah sekitar 35 tahun menikmati asap tokok,” kata paul menuturkan padaku.
Semula, paul bilang, tak mau rame-rame mendeklarasikan berhenti merokok kepada orang-orang di sekitarnya.
***
Pasalnya?
***
Saking ga bisa menahan luapan kegembiraan sekaligus hati yang trenyuh (seperti angst ‘kali), paul bilang kepada teman karibnya, “Gua udah ga ngerokok lagi nih.”
Temannya memperhatikan paul dengn seksama raut mukanya. Teman sebayanya itu, yang termasuk bareng memulai merokok di paruh kedua SLTP, ga percaya atas pernyataan itu. “Ah, masa sih? Mana mungkin kenikmatan dilepaz begitu saza,” katanya temannya yang tau bagaimana kebiasaan yang menahun ketika menulis dengan melewati malam di depan komputer harus hadir pula sebungkus rokok.
***
“Aku udah ga ngerokok..”
“Ya?”
“Aku ga ngerokok lagi.”
“Yakin? Tapi itu seharusnya kamu lakukan bertahun-tahun yang lalu. Kenapa aku baru bisa bilang sekarang? Karena aku tau kamu susah dibilangin soal ini. Ibumu aja dilawan, apalagi aku. Coba hitung berapa duit yang kamu bakar, apa ngga karatan tuh paru-parumu? Eh, bukannya tadi pagi di kamar mandi masih bau asap rokok?
“Ya, mulai detik ini aku berhenti.”
“Lihat ajalahhh nanti, dan nanti lihat ajalahh…
“??”
***
Untuk meneguhkan niatnya itu, sebetulnya Paul ingin bertaruh dengan istrinya tersebut. Kesungguhan kan bisa “diperjudikan”, pikirnya. Pertaruhannya: jika paul merokok lagi dalam periode setahun ini, istrinya dapat Rp 5 juta. Tapi, sebaliknya paul akan dapat Rp 5 juta bila dalam setahun lolos kagak ngebul. Tapi, masa iya bertaruh sm istri.
Anehnya, ajakan taruhan ini ga ada yang merespon, baik saudara, teman maupun handai tolan yang dikenalnya.
***
Itu, pertaruhan yang ga menarik, hib (kependekan dari shohib = kawan), kata temennya, Malah temennya itu bilang, “Lu berhenti (merokok) kayaknya karena takut mati.” Padahal mereka berdua sering mengolok-olok orang-orang yang menganjurkan menyetop merokok. Paul dan temennya pun serempak berujar, “Ngerokok ga ngerokok ya bakal mati juga.”
Tapi, sekarang, cuma temennya itu yang melontarkan kalimat sarkasme tersebut. Paul hanya membalas dengan senyuman tipis.
***
Paul tanpa rokok hampir enam bulan. Terkadang perangainya resah (heunteu pararuguh, angst,) menahan keinginan mengisap rokok sebatang aja – cuma sebatang aja, mbok.
Paul akhirnya bilang kepadaku, “Ini (tidak merokok lagi), atas nama cintaku kepada putra-putriku, bukan yang lain.”
Loading...
Selamat atas blog-nya, Mas Paul. Alasan yang keren untuk berhenti merokok. Saya sendiri bukan penggemar asap hehehe..
yepe - April 16, 2008 at 12:49 pm